Sistem Evaluasi Resapan Air Pintar

Empat hal yang membuat

banjir terus terulang

Tata kelola limpasan air hujan masih lemah

Air hujan dibuang cepat ke saluran, bukan dikelola di sumbernya. Prinsip Zero Runoff yang seharusnya jadi standar belum diterapkan secara konsisten di kawasan terbangun.

Urbanisasi cepat dan hilangnya area resapan

Bangunan dan permukaan kedap air terus tumbuh. Ruang terbuka hijau menyusut drastis. Daya dukung hidrologi wilayah terlampaui, tanah tidak lagi mampu menyerap beban air yang harus ditampungnya.

Infrastruktur resapan tidak dimonitor berkala

Sumur resapan dan SPAH dibangun saat perizinan, lalu dilupakan. Tidak ada monitoring fungsi, tidak ada perawatan. Saat hujan ekstrem datang, banyak yang ternyata sudah tidak berfungsi.

Sistem monitoring tidak terintegrasi

Data tersebar di banyak instansi. Evaluasi kebijakan tidak berbasis data lapangan. Pengawasan manual tidak mungkin scalable di skala kota, apalagi provinsi.

Aturannya sudah ada.

Masalahnya, belum bisa dieksekusi di skala kota.

UU No. 17 Tahun 2019
tentang Sumber Daya Air
PP No. 42 Tahun 2008
tentang Pengelolaan SDA
PP No. 36 Tahun 2005
tentang Bangunan Gedung
Permen LH No. 12 Tahun 2009
tentang Pemanfaatan Air Hujan

Air hujan tidak dibuang.

Air hujan dikelola.

Implikasi penerapan

  • Air hujan tidak langsung dibuang, tetapi:
    • diresapkan (sumur resapan, biopori)
    • ditampung (SPAH / rainwater harvesting)
  • Pembangunan harus menyesuaikan daya dukung hidrologi
  • Zero Runoff menjadi bagian dari:
    • perizinan bangunan
    • tata ruang
    • kebijakan adaptasi iklim

Dampak yang terukur

  • Penurunan limpasan permukaan dan genangan
  • Pengurangan risiko banjir perkotaan
  • Peningkatan imbuhan air tanah
  • Efisiensi anggaran penanganan banjir
  • Kota lebih adaptif terhadap perubahan iklim
  • Cadangan air tanah yang lebih sehat dan stabil

Solusi Mengatasi Banjir dengan Pengelolaan Air Hujan untuk Masa Depan Berkelanjutan

Platform digital berbasis data geospasial dan analisis hidrologi untuk mengukur, memantau, dan mengelola kapasitas resapan air, mewujudkan kawasan yang bebas banjir dan berkelanjutan.

SERAP Dalam Angka

98

%
Akurasi deteksi zona rawan banjir

500

+
Kawasan terpantau di seluruh Indonesia

2.4

Juta
Hektar lahan yang telah dianalisis

Prinsip SERAP

Sustainability

Berkomitmen pada pengelolaan air hujan yang berkelanjutan untuk masa depan kota yang lebih tangguh.

S

Ecosystem Collaboration

Mendorong kolaborasi multipihak antara pemerintah, masyarakat, pelaku bisnis, dan lembaga pembiayaan.

E

Responsible Governance

Mendukung tata kelola pengelolaan air hujan yang transparan, terukur, dan akuntabel.

R

Advanced Innovation

Memanfaatkan teknologi dan analisis data untuk menghadirkan solusi yang lebih efektif.

A

Positive Impact

Menciptakan dampak nyata dalam mengurangi risiko banjir serta meningkatkan keberlanjutan lingkungan.

P

Masyarakat & Pemilik Properti

Pelaku Bisnis & Pengembang

Pemerintah Daerah & Kementerian

Apa itu SERAP? dan untuk siapa platform ini?

Apakah SERAP tersedia untuk seluru kawasan di Indonesia?

Sebarapa real-time data yang ditampilkan di dashboard?

Data sensor diperbarui setiap 60 detik untuk sensor yang terhubung langsung via jaringan seluler (4G/LTE). Untuk sensor yang menggunakan gateway LoRaWAN di area dengan sinyal terbatas, interval pembaruan bisa mencapai 5 menit. Data cuaca dari API BMKG diperbarui setiap 15 menit. Dashboard selalu menampilkan timestamp terakhir setiap sensor sehingga operator dapat memantau freshness data secara langsung.

Seberapa akurat heatmap yang dihasilkan SERAP?